Page 203 - Astramagz - Edisi Oktober 2020
P. 203

PROFIL PENERIMA APRESIASI SATU INDONESIA AWARDS 2017


          ANJANI SEKAR ARUM
          BATU, JAWA TIMUR

          ANJANI, SI BATIK BANTENGAN






                                             ia menyisakan satu lembar. Persoalan
                                             datang ketika Istri Walikota Batu, Dewanti
                                             Rumpoko, mengajaknya pameran
                                             di Praha, Republik Ceko. Dua pekan
                                             menuju hari H, Anjani cuma sanggup
                                             membuat 10 lembar kain. Ternyata
                                             tidak mudah mencari pembatik yang
                                             tekun dan bagus. Pada 2015, ia bertemu
                                             dengan Aliya, gadis berusia 9 tahun yang
                                             tertarik mempelajari cara membatik.
                                             Sejak itu, Anjani memilih melatih anak-
                                             anak menjadi pembatik di sanggarnya.
                                             Sampai kini, sudah 58 anak yang belajar
                                             di sanggarnya, 28 di antaranya menjadi
                                             pembatik aktif. Setiap bulan, Sanggar
          Batik Bantengan adalah hasil gabungan   Andana rata-rata menghasilkan 45
          dari bakat, keahlian, ketekunan, dan   lembar kain batik. Setiap lembar dijual
          cinta. Anjani Sekar Arum memulainya   Rp 300 ribu-750 ribu. Dari setiap kain
          pada Agustus 2014 dengan mendirikan   yang terjual, Anjani hanya mengambil
          sanggar dan galeri batik Andaka di Kota   10 persen. Uang itu digunakannya
          Batu, Malang. Ia mendesain sendiri motif   untuk membeli kain, pewarna, dan
          kain batik Bantengan. Ia mewarisi bakat   perlengkapan lain. Selebihnya menjadi
          melukis ayahnya. Tapi, perempuan 26   hak para pembatik anak-anak. Tak
          tahun ini juga mengasah keahliannya di   jarang, Anjani menguras gajinya yang tak
          Jurusan Seni dan Desain, Fakultas Sastra,   seberapa sebagai guru honorer di SMPN I
          Universitas Negeri Malang. Anjani mulai   Batu yang tak seberapa untuk menambal
          membatik pada 2010, tapi baru pada   berbagai biaya sanggarnya.
          2014 ia bisa berpameran. Dari 54 kain,




                                                                          143
   198   199   200   201   202   203   204   205   206   207   208