Page 191 - Astramagz - Edisi Oktober 2020
P. 191
PROFIL PENERIMA APRESIASI SATU INDONESIA AWARDS 2015
TUTUS SETIAWAN
SURABAYA - JAWA TIMUR
PEMBUKA MATA
TUNA NETRA
Menjadi tunanetra itu artinya menghadapi
banyak hambatan dalam menjalani
kehidupan. Dunia menjadi gelap di mata
mereka. Beban itu menjadi bertambah
ketika menghadapi stigma di masyarakat
yang seringkali membuat pedih di hati.
Adalah Tutus Setiawan (35), penyandang
tuna netra sejak usia 8 tahun, yang mulai
memikirkan kemajuan teman-teman
sesama tuna netra. “Saya mendirikan
komunitas ini sejak tahun 2003. Waktu eksis di masyarakat.
itu saya masih kuliah. Saya melihat
permasalahan teman-teman disabilitas Tutus ingin mendobrak stigma
tunanetra di Surabaya ini sangat banyak, masyarakat bahwa penyandang disabilitas
terutama kami mengalami diskriminasi tuna netra tidak hanya bisa bekerja di
dalam banyak hal,” ujar Tutus yang kini sektor informal seperti tukang pijat,
sudah menyelesaikan pendidikan S2-nya menjadi guru atau pemain musik. Mereka
di Unesa (Universitas Negeri Surabaya). punya potensi lebih untuk berkarier di
bidang-bidang yang lebih luas.
Tutus lalu mengajak 4 orang temannya
sesama tuna netra, yaitu Sugi Hermanto, Hasilnya sungguh luar biasa. Contohnya,
Atung Yunarto, Tantri Maharani dan Yoto Alfian (17), siswa kelas 3 IPS SMA Negeri
Pribadi untuk mendirikan LPT (Lembaga 8 Surabaya yang rajin berlatih dan
Pemberdayaan Tunanetra). Lembaga mendalami Teknologi Informasi di LPT
itu menjadi wadah bagi tunanetra di berhasil menjadi Juara II dalam ajang
Surabaya untuk terus belajar dan berlatih Global IT Challenge di Jakarta beberapa
meningkatkan kemampuannya agar bisa waktu lalu.
131

