Page 96 - Astramagz - Edisi Oktober 2020
P. 96
membuat Eklin semakin teguh untuk
menyampaikan perdamaian dalam kisah-
kisahnya.
Pada tahun 2017, Eklin Amtor de
Fretes mendirikan program bernama
Youth Interfaith Peace Camp untuk
berbagi tentang nilai-nilai perdamaian
dan menghidupkan perdamaian lewat
kreativitas dan keseharian hidup. Setelah
membuat Youth Interfaith Peace Camp,
Eklin Amtor berpikir bahwa kegiatan Pada tahun 2017, Eklin Amtor de Fretes mendirikan program
pendidikan perdamaian juga dibutuhkan bernama Youth Interfaith Peace Camp.
anak-anak kecil di Maluku.
Ia berusaha mengemas ruang-ruang
Eklin melihat perlunya ruang untuk perjumpaan untuk anak-anak sampai
berdiskusi tentang hidup dan keseharian. pemuda dan orang tua bisa berkumpul
Dia percaya perjumpaan dengan cerita- dan berbagi serta belajar untuk merawat
cerita yang hidup untuk membangun perdamaian. Ia juga ingin membuka
kepercayaan maka akan tumbuh toleransi ruang perjumpaan kepada setiap
dan perdamaian. Eklin Amtor de Fretes masyarakat Maluku. Sebab segregasi
sangat percaya bahwa perdamaian dan wilayah bukan alasan untuk tidak bisa
toleransi itu tidak akan pernah ada, tanpa bersatu.
ada pertemuan dan diskusi.
Sebab dengan adanya segregasi
wilayah di Maluku, sering kali orang
tua menceritakan cerita konflik pada
tahun 1999. Oleh sebab itu, ia berusaha
melawan cerita-cerita konflik yang bisa
membawa segregasi itu dengan dongeng
yang dinamakan Dongeng Damai.
Pada 2019, pemuda kelaiharan Masohi,
19 November 1991 ini membuat program
baru yaitu Belajar di Rumah Dongeng
Damai yang di dalamnya berisikan
pelajaran Bahasa Inggris, Bahasa Jerman,
dan kelas seni. Hal ini rutin dilakukan
Eklin Amtor de Fretes menyebarkan pesan perdamaian lewat
boneka. untuk anak-anak di daerah Maluku agar
36

